Sirine Plengkung Gading Jogja mendadak berbunyi pada Sabtu malam, 24 Oktober 2026, dan membuat warga serta pengguna media sosial bertanya-tanya mengenai penyebabnya. Suara sirine tua yang dikenal masyarakat setempat sebagai gauk atau gaung tersebut terdengar selama beberapa menit di kawasan Plengkung Nirbaya, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta. Peristiwa itu kemudian mendapat perhatian setelah sebuah video beredar di media sosial. Kepolisian memberikan penjelasan awal bahwa bunyi tersebut diduga berkaitan dengan gangguan pada sistem kelistrikan, bukan karena adanya keadaan darurat.
Peristiwa ini menarik perhatian karena sirine di atas Plengkung Gading bukan sekadar perangkat penghasil suara. Bangunan dan sirine tersebut memiliki hubungan erat dengan sejarah pertahanan Yogyakarta serta tradisi masyarakat setempat. Dalam penggunaan yang dikenal sekarang, sirine biasanya dibunyikan pada momen tertentu, termasuk peringatan kemerdekaan dan menjelang waktu berbuka puasa selama Ramadan. Karena itu, ketika suara sirine terdengar di luar kebiasaan, wajar apabila masyarakat ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Informasi dari kepolisian menjadi penting agar kejadian ini tidak disalahartikan sebagai tanda serangan atau bencana.
Kronologi Sirine Plengkung Gading Berbunyi pada Malam Hari
Berdasarkan pemberitaan detikJogja pada 25 Oktober 2026, sirine atau gauk di Plengkung Gading terdengar sekitar pukul 21.08 WIB pada Sabtu malam sebelumnya. Suara tersebut berlangsung kurang lebih lima menit. Rekaman kejadian kemudian ramai diperbincangkan setelah beredar melalui media sosial, sehingga masyarakat mempertanyakan alasan sirine yang biasanya digunakan pada momen khusus itu bisa berbunyi secara tiba-tiba.
Kasi Humas Polresta Yogyakarta, Iptu Dani Hasan, membenarkan adanya peristiwa tersebut berdasarkan keterangan saksi. Pihak kepolisian menyampaikan bahwa sirine di atas Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gading memang berbunyi tanpa direncanakan. Namun, dari informasi awal yang dihimpun, tidak ditemukan keadaan darurat yang berkaitan dengan bunyi tersebut.
Setelah suara sirine terdengar, saksi berkoordinasi dengan pengurus kampung untuk menghentikannya. Sakelar pemutus arus atau MCB yang berada di bawah tiang gauk kemudian dimatikan. Langkah ini dilakukan agar sirine berhenti berbunyi dan situasi kembali normal.
Peristiwa tersebut memperlihatkan pentingnya memastikan informasi sebelum menyimpulkan penyebab suatu kejadian. Bunyi sirine memang identik dengan peringatan bahaya, tetapi tidak setiap bunyi yang muncul berarti terdapat ancaman nyata. Dalam kasus ini, keterangan awal aparat mengarah pada kemungkinan gangguan teknis.
Polisi Menduga Ada Korsleting Listrik

Menurut keterangan Polresta Yogyakarta yang dikutip media, penyebab sirine berbunyi sendiri diduga berupa korsleting pada sistem kelistrikannya. Dugaan tersebut disampaikan sebagai kemungkinan penyebab, bukan hasil pemeriksaan teknis final yang telah dipastikan secara menyeluruh.
Gangguan listrik dapat membuat perangkat yang terhubung dengan sistem kelistrikan bekerja tidak sebagaimana mestinya. Meski demikian, untuk memastikan penyebab khusus pada gauk Plengkung Gading, diperlukan pemeriksaan terhadap instalasi, sakelar, sambungan kabel, serta komponen pengendali sirine. Karena itu, masyarakat sebaiknya membedakan antara dugaan awal kepolisian dan hasil pemeriksaan teknis yang definitif.
Tidak adanya kejadian darurat setelah sirine berbunyi juga menjadi informasi penting. Berdasarkan keterangan yang diberitakan, warga tidak menemukan keadaan darurat yang mengharuskan sirine tersebut diaktifkan. Penghentian bunyi melalui MCB menjadi langkah praktis untuk mengakhiri kejadian pada malam itu.
Insiden ini sekaligus mengingatkan bahwa perangkat peringatan yang memiliki nilai sejarah perlu dijaga dari sisi teknis maupun pelestariannya. Pemeriksaan berkala terhadap sistem kelistrikan dapat membantu mengurangi kemungkinan gangguan, terutama pada perangkat lama yang masih digunakan untuk kegiatan seremonial dan tradisi masyarakat.
Mengenal Gauk atau Sirine di Plengkung Gading
Gauk merupakan sebutan yang dikenal masyarakat untuk sirine yang berada di atas Plengkung Gading. Perangkat tersebut berdiri pada tiang baja dengan bagian kepala berupa tiga corong pemancar suara. Letaknya yang berada di atas gerbang bersejarah membuatnya mudah dikenali sebagai salah satu ciri khas kawasan tersebut.
Menurut pemberitaan mengenai kejadian terbaru, gauk Plengkung Gading didirikan pada 1930, bersamaan dengan gauk yang berada di kawasan Pasar Beringharjo. Pada masa awal penggunaannya, sirine tersebut berfungsi sebagai penanda bahaya ketika terdapat ancaman serangan musuh. Dengan suara yang nyaring, perangkat ini dapat menyampaikan peringatan kepada masyarakat dalam situasi tertentu.
Seiring berjalannya waktu, fungsi sirine mengalami perubahan. Perangkat yang dahulu berkaitan dengan sistem peringatan bahaya kini juga digunakan untuk menandai momen penting dalam kehidupan masyarakat. Salah satu penggunaannya yang paling dikenal adalah sebagai penanda waktu berbuka puasa pada bulan Ramadan.
Keberadaan gauk menunjukkan bahwa benda bersejarah dapat memiliki fungsi yang berubah mengikuti kebutuhan zaman. Meskipun tidak lagi digunakan dalam konteks yang sama seperti pada masa lalu, sirine tersebut tetap menyimpan cerita mengenai sejarah kota dan kehidupan warga Yogyakarta.
Sejarah Plengkung Gading dan Fungsinya bagi Yogyakarta
Plengkung Gading memiliki nama asli Plengkung Nirbaya dan terletak di sebelah selatan Alun-Alun Kidul Yogyakarta. Gerbang ini merupakan bagian dari sistem pertahanan kawasan Keraton Yogyakarta pada masa lalu. Bentuknya yang melengkung, tembok yang mengapitnya, serta keberadaan parit dan jembatan gantung pada masa lampau menunjukkan bahwa bangunan ini dahulu memiliki fungsi strategis, bukan hanya sebagai pintu gerbang.
Nama Gading merujuk pada warna putih atau pucat bangunan tersebut, sedangkan Nirbaya memiliki makna yang berkaitan dengan keadaan bebas dari bahaya duniawi. Plengkung ini juga dikenal karena perannya sebagai jalur keluarnya jenazah Sultan yang telah wafat menuju kompleks pemakaman Imogiri. Karena nilai sejarah dan tradisinya, Plengkung Gading menjadi salah satu bangunan bersejarah yang memiliki arti khusus bagi masyarakat Yogyakarta.
Kapan Sirine Plengkung Gading Biasanya Berbunyi?
Dalam penggunaan yang selama ini dikenal masyarakat, sirine Plengkung Gading dibunyikan pada momen-momen tertentu, terutama saat peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus dan menjelang waktu berbuka puasa pada bulan Ramadan. Tradisi tersebut membuat suara gauk menjadi bagian dari ingatan kolektif warga sekitar.
Namun, bunyi pada Sabtu malam, 24 Oktober 2026, berbeda dari penggunaan biasanya. Kepolisian menyatakan tidak ada keadaan darurat yang ditemukan setelah sirine berbunyi. Penyebabnya masih berupa dugaan gangguan atau korsleting pada sistem kelistrikan, sehingga tidak tepat mengaitkan kejadian tersebut dengan ancaman tertentu tanpa bukti.
Sirine Plengkung Gading Jogja yang mendadak berbunyi pada malam 24 Oktober 2026 diduga mengalami gangguan kelistrikan. Menurut keterangan Polresta Yogyakarta yang diberitakan media, sirine berbunyi selama sekitar lima menit dan tidak diikuti kejadian darurat. Sementara itu, Plengkung Gading sendiri merupakan peninggalan bersejarah Keraton Yogyakarta yang sirinenya dahulu digunakan sebagai penanda bahaya dan kini juga menjadi bagian dari tradisi peringatan kemerdekaan serta Ramadan.












Leave a Reply